Hukum Adat

“Salah satu hukum yang paling unik menurut pandanganku itu yaaa hukum adat. Soalnya masing-masing daerah terkadang memiliki hukum adat yang berbeda-beda. Hukum adat ini juga menjadi warisan budaya juga kalau bisa dilestarikan”

Salah Satu Adat di Indonesia

Salah Satu Adat di Indonesia

Istilah Hukum Adat digunakan pertama kali oleh Prof. Dr. Snouck Horgronje. Kata “Hukum” sendiri memiliki pengertian bahwa apabila sesuatu hal dilanggar maka akan dikenakan sanksi, sedangkan “Adat” diartikan sebagai kebiasaan. Jadi, Hukum Adat dapat disimpulkan menjadi kebiasaan yang memiliki akibat hukum.

” dari pengertian itu, kita bisa tahu bahwa hukum adat berbeda dengan adat istiadat. Kok bisa???”

Hukum Adat berbeda dengan Adat Istiadat. Adat istiadat dapat dikatakan sebagai kebiasaan yang berada di suatu kelompok masyarakat atau daerah tertentu. Suatu adat dapat dikatak sebagai hukum adat apabila adat istiadat yang dilanggar memiliki sanksi. Jadi, adat istiadat yang berlaku tanpa sanksi atau akbiat hukum tidak bisa dikatakan sebagai hukum adat.

Hukum adat memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu (1) mengenai hal tertentu; orang harus mengalami bahwa hal itu sering terjadi atau dengan kata lain telah berulang-ulang, (2) masyarakat selalu memberi reaksi terhadap terjadinya peristiwa tersebut, (3) masyarakat berpendapat bahwa tiap-tiap kali berbuat sama terhadap hal-hal yang sama dan tertentu tersebut adalah sudah termasuk suatu keharusan.

“kalau bahasanya kurang dimengerti, harap maklum… itu njiplak omongan dosen soalnyaa… wkwkwkkw”

Di Indonesia ada 19 daerah hukum adat yang dibagi oleh Van Vollenhoven, yaitu Aceh, Tanah Gayo (Batak), Sumatra Selatan, Minangkabau, Melayu, Bangka Belitung, Kalimantan, Minahasa, Gorontalo, Toraja, Sulawesi Selatan, Ternate, Ambon (Maluku), Irian, Timor, Bali dan Lombok; Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura; Daerah Swapraja, Jawa Barat. Tiap Daerah tersebut memiliki hukum adat yang berbeda-beda antara yang satu dan yang lainnya. Di dalam masyarakat adat dikenal 3 macam tipe masyarakat hukum adat yakni (1) Masyarakat Hukum Terestrial berdasarkan pertalian tempat tinggal atau daerah (2) Masyarakat Hukum Genealogis – berdasarkan pada keturunan (gen) atau pertalian darah (3) Masyarakat Hukum Campuran Genealogis dan Terestrial. Sedangkan susunan masyarakat Genealogis dapat dibedakan menjadi Patrilineal (pertalian menurut garis bapak), Matrilineal (pertalian menurut garis ibu), dan Parental (pertalian menurut garis bapak dan ibu).

“karena Indonesia memiliki beragam suku dan budaya, jadi beragam pula hukum adatnya… banyak yang harus dipelajari lagi…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s